Hari Pertama 

Masuk saja dari pintu barat, lurus terus dan kau akan bertemu denganku, ibu juga ayah.

Begitu katanya dalam pesan singkat di layar ponselku. 

Kenapa napas ini terasa berat? Ada satu detak yang menghantam kuat. Sakit? Tidak juga. Sedih? Mungkin. 

Sambil melirik kanan kiri memperhatikan jalan, aku berbisik untuknya yang sedang berjuang. 

Tunggu ya… aku pasti datang. Sebentar lagi sampai. 

Tiba-tiba saja, tanpa diduga. Pipi basah oleh setetes air dari mata. Ya … waktu telah berjalan cukup panjang.

***

“Terima kasih ya, Pak.” ucapku tanpa menatap wajahnya, buru-buru mencari jalan masuk yang dimaksud oleh pengirim pesan tadi. 

Ada tangga selebar satu setengah meter, di depan pintu gerbang masuk, ruang berbangku ukuran kecil berjejer. Kaca ruangan itu berukuran setengah tembok, jadi aku yang mini ini bisa melihat isinya. Sepi, hanya ada beberapa anak berpakaian rapi sedang berbincang atau memperhatikan wanita berkerudung bersuara.

Persis di samping tangga, lorong sepi melambai, seolah mengajak berkenalan. Menelusuri hingga ujung tubuhnya. Liur kutelan, tanda pikiran sedang bekerja keras. 

Kugeledah isi tas, mengambil ponsel yang kulempar tanpa sadar, di atas motor, tadi. Untung saja mudah kutemukan. Segera kupencet nomer yang tak pernah kuhapal. 

“Halo…”

“Kamu di mana?”

“Di depan tangga”

“Terus saja ke dalam, aku menunggumu di sini”

Saluran telepon kumatikan, kaki kugerakan ke depan. Tampak tiga orang kukenal berdiri seperti membentuk kelompok yang sedang berdiskusi. 

Kegiatan ritual kulalui, cium pipi kanan kiri. Berharap tak ada yang memandagiku sedemikian rupa karena keterlambatan ini. Syukurlah… cepat-cepat wanita berbaju batik berkata. 

“Abang, adik, kelasnya di sini.” Tangannya menunjuk ke arah kelas berpintu tak dikunci. 

Hanya senyum terbaik yang kuberi sebelum aku melangkah menghampiri tempat yang ditunjuk wanita berusia 60tahunan itu. Kutatap tanpa kedip dua bocah penghuni rahim yang sedang asyik bermain. Lihatlah… mereka pakai kerudung dan peci putih, wajahnya dikombinasi dengan rasa bahagia dan penuh konsentrasi.

Kuucap lirih tanpa ingin memanggil, “aku di sini… lihatlah ke mari.”

Hanya perlu dua detik penantian ini, mata mereka akhirnya ke arahku. Berteriak dengan wajah sumringah.

“Ibuuuuu….”

Dan air mata tak dapat kubendung lagi. 

Jakarta, 12 Juli 2017

#onedayonepost

#tantangan

Advertisements

Tolong

Tiga meter dari tempatku terlentang santai, ada yang duduk terdiam, menunduk. Rambutnya sebahu, dibiarkan menutupi sebagian wajah sendu. Pakaiannya berwarna merah muda, lusuh.

Siapa?
 
Hasrat ingin tahuku bergelora. Menggerakan bibir untuk bersuara.

Hening. Massa berhenti, dunia serasa statis. Tapi tidak berlaku pada ruang jiwaku, secepat kilat menjadi penuh. Pekak oleh berjuta tanda tanya. 

Ada yang bisa kubantu? 

Oh tidak! Pertanyaan itu tidak boleh dilontarkan. Bagaimana kalau dia benar-benar minta tolong? Sedangkan aku… aku tidak mampu. jerit hatiku panik gemetaran.

Dia tetap membisu, posisinya pun sama seperti pertama kali indera menangkapnya. Membuat kebiasaanku terjadi, menggerakan bola mata ke kanan kiri. Namun, malam ini, ada hal lain mengikuti, yaitu tarikan napas yang sangat berat. 

Bukan. Bukan karena asmaku kambuh… diam-diam aku mulai ngeri. Membayangi wajah diterkam sampai tidak bisa berdiri, kabur sambil berlari. Hiiiiii… Maka, kalau kalian penasaran mengapa napasku kronis, semua karena otak dan hati tidak kompak. 

Ini sudah sepuluh menit, tapi tidak ada kejadian apapun selain jari tangan kananku menjadi bagai tulang yang dipaksa bekerja rodi tapi tidak dicukupi asupan vitamin B kompleks. Kesemutan. 

Suasana ramai berlampu purnama kini berubah sunyi. Sunyi yang hanya mendekapku sendiri. Dingin sampai tulang sumsum menjalar perlahan dari ujung jari kaki menuju betis, paha, pinggang, berhenti di perut seperti digerayangi koloni dari genus Atta & Acromyrex dan aku adalah daun yang siap dihancurkan untuk kelangsungan hidup mereka.

Kamu siapa? Mau apa? Dari mana? 

Kurasa, suaraku sudah cukup tegas saat bertanya padanya. Dan, benar! Dia mengangkat kepalanya. Seiring tatapan kami yang beradu, paru-paruku penuh udara yang kuhisap melebihi kapasitasnya tanpa sadar dan berhenti sampai disitu. 

Mata tak kuasa berkedip, pandangan kami semakin melekat. Ada kesedihan amat mendalam di sana. Oh Tuhan! Sebenearnya ada apa? Dia siapa? 
 
Tenggorokan gersang, tapi tubuh tiada daya untuk bergerak memenuhi kebutuhannya sendiri. Otakku kaku, mati rasa. Jadilah aku manusia pengidap quadriplegia.

Lambat laun, sayup terdengar hembusan napas pelan, penuh sesal namun pasrah sebab lelah. Bibirnya terbuka, hendak mengungkap kata.

Akhirnya, dia bicara…

“Tolonglah aku… aku mati terbunuh. Aku ingin kedua orangtuaku tahu bahwa aku begitu menyesal telah menjadi anak pembangkang…”

Tangerang, 2 juli 2017


#fiksivinny

Menjelajah Rimba

Apa yang kita pikirkan ketika mendengar kata ‘rimba’?

Tentu tidak lepas dari hutan, rimbunnya pohon, lembabnya udara dan gelapnya lahan karena tertutup daun. Tapi, bagaimana jika sebuah rimba diisi dengan buku yang rimbun, tertutup oleh barisan bacaan yang beraneka ragam dan … tempat yang nyaman untuk melahap semua isi rimba yang super lengkap sekaligus enak?

Kita yang sangat suka membaca tentu seperti bertemu sebuah ‘surga’ karena di Rimba Baca semua jenis buku tersedia, hanya perlu waktu dan mata untuk melahapnya.

Bicara buku, maka tak lepas dari ilmu. Seperti yang kita tahu, bahwa agama Islam mengajarkan pada umatnya untuk membaca, agar kita selalu mendapatkan ilmu pengetahuan maupun kehidupan karena ilmu selalu berkembang seiring zaman.

Berawal dari kegemaran membaca dan membeli buku bacaan sejak kecil Fitri (pemilik Rimba Baca) meminta tolong temannya, seorang arsitek untuk mendesign rumahnya menjadi sebuah perpustakaan yang lengkap dengan interior yang ramah anak-anak.

Saat ini koleksi yang tersedia di Perpustakaan Rimba Baca sebanyak lebih dari 6000 judul yang terdiri dari 2000 koleksi deqasa dan 4000 koleksi anak-anak. Untuk koleksi anak-nak, disusun di rak setinggi 2.5 meter dan dikelompokkan berdasarkan umur.

Ruang baca Rimba Baca terdiri dari dua lantai. Lantai pertama, buku anak-anak yang terbagi 3 dalam kelompok usia 0-3 tahun, 4-8 tahun, 9-12 tahun. Koleksi anak-anak sebanyak 80% merupakan buku impor dalam bahasa Inggris. Koleksi bahasa Inggris lebih dipilih karena dianggap ceritanya lebih variatif.

Lantai dua berisi koleksi buku untuk orangtua atau pendamping (dewasa). Pengklasifikasian buku di lantai dua cukup sederhana. Dibagi menjadi beberapa kategori, yakni, kategori novel Indonesia, Novel bahasa Inggris, buku remaja, Biography, Lingkungan, Resep.

Perpustakaan Rimba Baca juga memiliki Ruang Art Craft, yaitu tempat berkreasi bagi anak-anak. Anak-anak bisa melukis dengan crayon, pensil warna yang alatnya sudah disediakan yang kemudian hasil karyanya bisa digantung pada tali yang disediakan. Seru deh pokoknya!

Untuk bisa menikmati buku-buku, membuat prakarya, pengunjung dikenakan biaya masuk sebesar Rp. 30.000 per kedatangan. Atau bisa dengan menjadi anggota perpustakaan dengan membayar iuran sebesar Rp. 350.000 per keluarga per tahun. Sebagai anggota, kita bebas meminjam buku dengan batas maksimal 5 buku yang bisa dipinjam selama seminggu. Peminjam dikenakan denda apabila telat mengembalikan bukunya. Ini mengajarkan anak-anak untuk disiplin waktu dan bertanggung jawab menjaga barang pinjamannya agar tidak rusak.

Rimba Baca punya kegiatan lain selain menjadi tempat baca, yaitu kelas Yoga, dongeng, art untuk anak dan orangtua (biasanya anak dan ibu).

Mau adain acara bareng teman-teman komunitas? Rimba Baca bisa banget tuh dijadikan tempat untuk kumpul sambil diskusi, sementara anak-anaknya bisa bermain sepuasnya. Tenang aja. Aman kok. He he. Kita tinggal menghubungi admin Rimba Baca via telepon, pembayaran bisa lewat transfer, atau bisa ke sana sekalian survey tempatnya dengan kapasitas maksimal 30 orang, mau di lantai atas atau bawah? Bebasss….

Di mana sih lokasi Rimba Baca?
Ada di Jl. RSPP No. 21B, Cilandak, RT.11/RW.2, Cilandak Bar., Cilandak, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12430

Jangan salahin ibu kalau setelah sampai sana jadi males pulang yah… apalagi kalau ditambah pingin main ke sana terus. Hihihi. Tempatnya super nyaman! Bukunya banyaaaak! Surga drh buat yang suka membaca dan … punya anak! Karena bisa tetap membaca meski ajak anak-anak. Sepertinya pemiliknya sendiri benar-benar paham kondisi setiap wanita yang sudha jadi ibu itu seperti apa ya. Hehehe.

Mau ke Rimba Baca bareng? Hayuklah ….

Edit

Buku anak-anak

Buku-buku dewasa, lantai 2
Sisi lainnya di ruang baca, lantai 2

Ruang baca, outdoor. Buku dewasa

Si Garing Lembut Gurih TABAX dari Mojokerto

Siapa sih yang nggak suka ngemil?

Apalagi kalau cemilannya sehat, aman dari pengawet dan MSG. Pasti makannya nggak bakal ada rasa bersalah, kan?! 

Beberapa hari yang lalu, kami sekeluarga ngoba yang namanya tabax a.k.a tahu bakso BUNDA! Jadi ada bakso yang gurih alami di dalam tahu yang garing dan lembut …

Enak!! 

Ibu sukanya makan dicocol saus dan mayonaise… tapi melihat bentuk dan rasanya, kayaknya bakal enak juga kalo makannya bareng sama siomay atau batagor. Ngebayangin si #tabax di potong-potong terus disiram bumbu kacang.. pasti endes gurendes, kan?! 

Garingnya itu lho… juara! Gurihnya juga pas, nggak mahteh, giung. Dan itu bikin kita jadi pengen lagi dan lagi. Disaranin makannya siang aja, biar bisa buang kalori dari baksonya dengan lari-lari kecil gitu. Hihiy. 

Ini yang produksi teman, beliau tinggal di Mojokerto. Nama cemilannya #tabax. Inovativ banget yah! 

Kerennya orang Indonesia …!

Ayuk jajan sama mamak pinih, Veda, Sakha dan Kina.

Love love!

Manihot Esculenta

P_20161203_094546_1_1.jpg

Siapa suka singkong?

Saya!

Apalagi kalau diolah jadi getuk (cemilan khas jawa tengah). Itu loh … singkong yang dikukus, kemudian ditumbuk bersama gula merah, dibentuk sesuai selera, dimakan cocol kelapa parut. Hmm… ngebayanginnya aja sudah ngences, kan?!. Manis dari gula, pulen dari singkongnya, gurih dari kelapa parutnya.

Manihot Esculenta, bahasa ilmiah singkong, tumbuh di daratan Amerika Selatan, pada awalnya. Hingga, pada tahun 1810, seorang kebangsaan Portugis memperkenalkan makanan tinggi serat ini ke Indonesia pada awal abad ke 16, lalu dikomersilakan pada tahun 1810.

Seorang Sanpirngad penjual gethuk (sebutan di jawa tengah dan timur) dari Sokaraja, pada tahun 1918 menemukan cara dengan menggoreng getuk jualannya bisa tetap dimakan keeasokan, hingga sekarang getuk goreng menjadi oleh-oleh khas jawa tengah.

Saya pernah coba getuk goreng… teksturnya agak keras, hampir mirip dengan kue gemblong, namun, dalamnya kopong. Rasanya kayak singkong pakai gula yang digoreng aja. Bicara selera, getuk klasik paling juara di lidah saya. Hihihi …

Seiring berkembangnya zaman, kepopuleran getuk semakin menurun. Biasanya saya hanya bisa menikmati getuk di tukang kue jajan dekat pasar saja.

Nah … untuk itu tugas kita adalah tetap melestarikan makanan khas tradisional jawa ini. Caranya, bisa dengan memperkenalkan pada anak-anak kita lewat mengajaknya mencicipi atau bahkan membuatnya di rumah, karena pada dasarnya membuat cemilan tradisional itu sangat simple kok. Bahkan bisa juga dijadikan moment spesial bersama anak-anak dengan masak bersama, untuk membangun bonding, fokus, mengembangkan motorik kasar anak.

Seperti yang kita ketahui, jajanan tradisional justru baik untuk tubuh, karena selain bahan dasarnya alami, tidak pakai pengawet kimia, penguat rasa, pewarna sintetis, proses pembuatannya pun tidak berulang-ulang sehingga membuat nutrisi yang terkandung dari bahan dasar makanan tersebut rusak atau hilang.

Jadi, ayuklah … kita bangun lagi kebiasaan ngemil makanan tradisional daerah kita sendiri sekaligus memperkenalkannya pada anak-anak kita. Bisa dimulai dengan… makan gethuk! Hihiy

Salam cinta dari ibu, Veda, Sakha dan Kina.

Jakarta, 12 Desember 2016

Vinny Martina

Kisah Guru Sekolah Apung (Review film Teacher’s Diary)

Wajah Song lesu, keadaan dan cara belajar anak didiknya yang dianggap sangat berbeda dari kebiasaannya telah merampas habis semangatnya dalam mencerdaskan generasi bangsa. Di tangannya, tergenggam sebuah buku bersampul coklat tebal, berkaret sebagai penyangga agar tetap tertutup rapat, dan … berisi begitu banyak rintihan serta kejenakaan seseorang yang lebih dulu singgah di sini. Di sekolah perahu, sebuah desa pedalaman, desa di atas air.

Kisah di atas adalah salah satu scene sebuah film Thailand berjudul Teacher’s Diary.

Teacher’s Diary terinspirasi oleh kisah nyata tentang bagaimana dua orang asing (Ann & Song) mengatasi peluang paling mungkin dari menjadi guru sekolah apung bagi anak-anak nelayan dan menemukan cinta dalam halaman-halaman buku harian guru An yang hilang.

Buku diary itu berisi curhatan kejenuhan, rasa sepi guru Ann -diperankan oleh Laila Boonyasak. Perasaan hampa dan kesepian yang mendominasi hatinya selama mengajar, membuat guru Ong, diperankan oleh Sukrit Wisetkaew, pengganti guru Ann untuk mengajar Sekolah Apung di tahun ajaran berikutnya, merasa memiliki teman ditengah kesepiannha, ketika membaca buku harian yang ditemukan di atas papan tulis. Hingga akhirnya kisah guru Ann memberikan guru Ong banyak petunjuk bagaimana cara menghadapi anak-anak muridnya.

Syuting film ini dilakukan Sekolah Apung di Kang Ka Jan Natural Park di Phetchaburi Province. Perjalanan guru Ong dan Ann membuat penonton memahami lebih dalam perjuangan seorang guru pedalaman.

Mulai dari menjemput sendiri murid-murid mereka dengan perahu, menciptakan suasana riang dalam belajar, memasak makanan mereka, dan banyak lagi.

Guru Ong penasaran dengan rupa guru Ann, dia mencari tahu identitas Ann hingga ke tempat mengajarnya yang baru. Namun, tentu akan tidak seru lagi kalau mereka bertemu, ya.

Pencarian yang berujung kegagalan, membuat guru Ong memutuskan untuk melupakan bayangan wanita yang mengisi sepinya, mendoakannya dan menjalani kembali hidupnya.

Waktu berjalan, guru Ann yang begitu mencintai dunia pendidikan, kembali ke Sekolah Apung. Kebahagiaan menyertai antara murid dan guru yang telah lama tidak berjumpa. Guru Ann merasa yakin bahwa mengajar adalah dunia yang dicintainya.

Suatu saat, tanpa sengaja pula, guru Ann menemukan buku Diary-nya yang tertinggal. Dia membaca sebagian isinya dengan tambahan tulisan seseorang yang misterius. Sejak itu, guru Ann merasa tidak sendirian di pedalaman karena ditemani oleh tulisan-tulisan seseorang (guru Song)

Apakah guru Ann juga penasaran siapa orang misterius itu? Akankah guru Ann juga melakukan hal yang sama seperti guru Ong lakukan? Dan … apakah mereka bertemu?

Nonton, Teacher’s Diary sampai tuntas … maka kalian akan tercengang, tersenyum dan bernapas lega setelah mengetahui akhir kisah mereka.

Selamat berakhir pekaaaan …. 💝🌼👸

Jakarta, 3 Desember 2016

VinnyMartina

“….”

Sepi memang terampil menyeret manusia ke alam jiwa. Mengoyak luka, menantang amarah, mengaduk-aduk rasa hingga datang bulir air mata. 

Tanda tanya dan seru saling menusuk. Mengutarakan gejolak yang yang hampir busuk. Bisikkilah … bagaimana aku mendeteksi makna, memburu hikmah? 

Dan, luka ini semakin perih. Kala indra hanya mampu memandangi sebuah hasrat berjalan mundur, menunduk lalu kabur. 

Ke mana perginya maitra? Yang biasa datang ketika salah satu dari kami terpenjara egosentri. Kenapa pula pintu karuna terkunci? Yang biasanya terbuka untuk menyapa, merayu murka bermutasi menjadi kerinduan akibat terlalu lama tak saling memanggil ‘hai kekasih’ 

Di sini, saat pergantian hari. Aku meringkuk sendiri. Bercengkerama dengan hati, melantunkan luka lewat gerakan jari. Membiarkan penglihatan kabur memandangi ketiga mini yang sedang bermimpi.

Apabila berdialog adalah trik paling ampuh menyambung rasa yang sudah terputus dan rusak. Maka, biarkan aku menyatukannya kembali dengan doa karena aku bukan wanita yang pandai mengungkap gundah lewat suara serak lagi manja.

Kuyakin, kau pahami itu sejak pertama kali kita saling menatap setelah memberi paraf. 

Jakarta, 21 November 2016

Vinny Martina